Tag

, , , , ,

 

 

Author             : Amellia (sokyuppil)

 

FB                    : Amel amellia drew

 

Twitter             : @amelliaphoebe93

 

Cast                 :

Park Jung Soo a.k.a Leeteuk

Choi Je Hoon a.k.a You

Choi Siwon

Kwon yuri

Kim Jong Woon  

 

Genre               : family,angst,romance

 

Rating              : AU

 

Disclaimer       : This FF is Mine. Leeteuk just for you guys. Entah darimana asal ide FF ni yang penting ni FF bisa dibaca dan please Dont Bash and Dont Copy. Dont Forget to RCL : )

 

Warning           : TYPO and Kata-kata GAJE berserakan !!!

 

Happy reading ^____^

 

 

— Aku bisa saja pergi, tak perdulikanmu. Namun, aku tak mau. Aku ingin selalu ada disisimu, bahkan disaat terburukmu —

 

— Bolehkah aku mengecup keningmu untuk yang terakhir kali ini saja —

 


 

Author POV

 

15-June-2003

 

Malam itu hujan nampak bahagia menyirami sudut kota seoul, kali ini hujan turun tak sendirian, dia jatuh bersamaan dengan hembusan-hembusan angin, perlahan suasana nampak begitu sepi dan membeku. Di halte bus seberang jalan kota seoul, terlihat seorang yeoja kecil sedang mendekap badan munggilnya. Dia kedinginan, yah bagaimana dia tak kedinginan. Yeoja itu hanya memakai pakaian tipis tak memakai mantel atau jas hujan, bibirnya mengigil kedinginan hingga bibir indah itu berwarna kebiruan. Bagaimana bisa yeoja kecil seperti dia berkeluyuran malam-malam begini ? kemanakah orangtua nya ? apakah tak ada orang yang mencarinya sekarang ini ?. dia memang mempunyai dua orangtua, eomma dan appa. Tapi, apakah mereka nampak mencari keberadaan yeoja kecil itu. TIDAK …. bahkan TAK PERNAH.

 

Seakan dunia ini tak dapat menerima kehadiran yeoja munggil itu. Sederet kisah memiluhkan bahkan kejadian yang hampir merenggut nyawanya selalu menghiasi kehidupan kelamnya. Bahkan, orangtuanya pun tak mau menganggap dia sebagai puterinya. Apa …. karena Apaaa ?? kau tau alasannya ? kau bisa memberitahuku ? menurutku hanya orang GILA yang tak mau menganggap seseorang itu hidup. Dia manusia sama seperti kalian, sama ya tentu saja sama .. !! tak lihatlah kalian,Hah. Dia juga mempunyai mata, telinga, kedua tangan, dan juga kedua kaki. Lalu ? apa yang membuat kalian tak mau menganggap yeoja itu. Tak bisa melihat ? Buta, maksudmu ? kau tahu itu, ini semua karena mu .. karenamu eomma, kau eomma …. kau yang membuat mata puterimu tak bisa melihat. Buta ? iyaa Buta. Tak pernah kau merasakan betapa sengsarannya kehidupan puteri kecilmu itu. Kau wanita JAHAT, kau wanita TAK PUNYA HATI, kau KEJAM.

 

 

 

 

06-February-1988

 

@Flower Boutique

 

“ Chagi~ya , bagaimana dengan baju pengantin ini ? kau suka ? “ kata seorang lelaki pada yeoja chingunya.

 

“ ah~ oppa !! Cham yebbeoyo , Johae !! “ balas yeoja itu dan kemudian tersenyum.

 

“ kajja , pakailah sekarang !! aku ingin melihatnya ! “ suruh namjachingunya.

 

Dan gaun yang dikenakan yeoja itu begitu pas dibadannya,nampak sempurna.

 

“ Aigoo~ kau sungguh menawan chagiya !! “ seru namjachingunya sambil memengenggam tangan lembut yeojanya.

 

“ Gomawo oppa “ balas yeoja itu dengan rona merah diwajahnya.

 

Setelah cukup lama mereka berkutat dengan serangkain vitting baju pengantin. Akhirnya pasangan berbahagia tersebut meninggalkan boutique tersebut.

 

“ Yuri-ah !! “ terikan seorang namja setengah baya berdering keras di telinga yeoja yang bernama yuri itu.

 

“ Ne appa “ katanya sambil menghampirinya appa-nya.

 

“ Besok kau akan menikah dengan Choi siwon ! “ ujar appa-nya dengan tegas.

 

“ Egh !! Mwoya ? Choi siwon , Nuguseyo appa ? “ yuri begitu shock dengan pernyataan appa-nya barusan.

 

“ Anak dari teman appa ! jangan menolaknya dan turuti kata appa ! arrachi ? “

 

“ Appa !! kau tau aku akan menikah dengan namjachinguku, kau tak bisa seperti ini appa. Jebal jangan lakukan ini appa !! “ ia mulai tak terima dengan semua apa yang dikatakan appa-nya.

 

“ Jangan Bantah perintah appa-mu “ sepertinya perkataan itu bukan hanya isapan jempol semata. Terdengar dari perkataannya yang bisa dibilang sangat serius.

 

“ A–appa  “ yuri mulai menangis, ia tak bisa menerima ini semua. Bagaimana dengan semua rencana pernikahan dengan namjachingunya. Jelas semuanya diambang kehancuran, ia tak bisa mengelak lagi dari Appa-nya, sang dictator yang tak bisa ditentang dan harus menuruti segala apa yang ia katakan.

 

~09-February-1988~

 

Pagi itu adalah pagi yang tak ingin dilewati oleh yuri. Hari ini ia akan menikah dengan seorang namja yang tak pernah ia tahu siapa dia, sama sekali tak mengenalnya. Hanya karena Appa-nya ia rela melakukan ini semua, karena rasa sayang terhadap appanya terlalu besar, namun rasa sayangnya pada namjachingunya juga tak kalah besar, hanya saja ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia telah merelakan kisah cintanya dan cita-citanya memiliki keluarga kecil yang bahagia bersama orang yang ia cintai, semuanya telah sirna tinggal kenangan.

 

Kim Jong Woon ya dia namjachingunya, mendapati kabar bahwa gadisnya akan melangsungkan pernikahan paksa. Dia hanya bisa diam , ia tak berusaha mengagalkan acara ini bagaimana ia bisa mengagalkan acara itu ? ia telah mendapat ancaman dari Appa yuri untuk tidak memperlihatkan batang hidungnya lagi dihadapan yuri dan suaminya. Ancaman yang tak bisa dilawan oleh Jong Woon, dan dengan terpaksa ia menuruti apa yang di inginkan oleh appa yuri. Ia dijadikan namja pengecut oleh Appa Yuri, Jong Woon hanya bisa merelakan semuanya. Ia bahagia demi kekasihnya dan ia putuskan untuk pergi meninggalkan negara ini dan menetap di Inggris. Bukan melarikan diri tapi ini permintaan Appa yuri, dialah yang menyuruh Jong Woon untuk melakukan ini semua. Bahkan ia pun tak diperbolehkan mengucapkan kata perpisahan pada Kwon Yuri. Benar-benar kisah cinta yang tragis.

 

Gereja kecil dan sanak keluarga menjadi saksi penyatuan dua sejoli yang tak pernah saling mengenal dan saling mencintai, tentunya. Ini pernikahan paksa , tak ada unsur percintaan didalamnya. Yuri pasrah, bagai appa sang penentu takdir, ia selalu menurutinya. Melawannya ? tidak bisa. Jadi terima saja kenyataannya. Dan akhirnya mereka,Choi siwon dan Kwon Yuri resmi menjadi sepasang suami istri, entah bagaimana dengan kehidupan selanjutnya, apakah mereka akan menjadi keluarga yang bahagia seperti impian yuri ?

 

Saat itu juga , Yuri tak bisa lagi bertemu dengan Jong Woon, Yuri pikir Jong Woon telah pergi meninggalkannya, ia tak lagi mencintai yuri itulah alasannya kenapa Jong Woon kini meninggalkan Korea. Yuri tak tau sebenarnya, ia hanya berpikir bahwa Jong Woon sudah tidak peduli dengannya. Kepergian Jong Woon pun bukan semata-mata kehendak ia sendiri namun dibelakang ini semua ada dalang yang mengerakkan yaitu Kwon Dong wook, Appa Yuri. Bagaimana bisa seorang Kim Jong Woon tidak lagi mencintai kekasihnya, mereka telah bersama-sama sejak 6 tahun yang lalu, kenangan manis dan pahit telah terlewati bersama, egois memang kalau benar Jong Woon pergi tanpa sebuah alasan. Tapi inilah akhir cerita cinta Kim Jong Woon dan Kwon Yuri.

 

~05-March-1993~

 

Setelah beberapa tahun Choi siwon dan Kwon Yuri mengarungi bahtera rumah tangga, semuanya telah berbalik 180 derajat. Yuri yang dikenal sebagai yeoja yang lembut dan baik hati kini bukan menjadi yeoja yang lembut, ia telah bertransformasi(?) menjadi yeoja kasar dan pemarah. Ia masih saja belum bisa menerima kenyataan ini, ia masih belum bisa menerima takdir pahit ini, ia hanya memendam perasaan sakit hatinya selama bertahun-tahun. Karena ia sangat mencintai appa-nya, namun setelah appa-nya meninggal, kini ia seolah melampiaskan semuanya, ia lampiaskan di kehidupannya sekarang. Choi Siwon sejatinya seorang suami yang sangat peduli dengan istrinya namun nampaknya Yuri belum bisa melupakan sosok Jong Woon dipikirannya. Hingga hari itu tiba , 10-Maret-1993 tangisan bayi hadir disela-sela kehidupan yuri dan siwon. Yaa !! akhirnya selama bertahun-tahun mereka telah dikaruniai sesosok bayi perempuan yang cantik. Tetap saja meskipun kehidupan mereka telah terisi dengan seorang anak, namun tak merubah sikap Yuri yang semakin hari semakin menjadi-jadi, seolah ia tak mau menerima kehadiran buah cintanya dengan Siwon. Ia tak pernah memperlakukan Choi Je Hoon –nama anaknya- dengan baik, sedari bayi yuri tak pernah memberikan asi atau menimangnya bahkan membelai rambutnya saja ia tak pernah. Semuanya dilakukan oleh Baby sister, ia tak pernah menyentuh Je Hoon. Hingga bayi munggil itu menjadi gadis kecil yang periang dan imut, tetap saja Yuri tak mempedulikannya. Suatu saat Choi siwon berpindah tugas ke Amerika untuk menangani perusahaan yang ada di sana, sebenarnya siwon ingin membawa istri dan anakknya untuk ikut dengannya karena siwon sepertinya akan lama menetap di sana, namun Yuri menolaknya. Apa boleh buat, ia tak bisa memaksa istrinya. Rasa khawatir selalu menghinggapi siwon ia takut kalau Je Hoon tak aman dengan Yuri, siwon yakin pasti yuri bisa menjaga buah hatinya dengan baik sampai ia kembali lagi.

 

4-October-2002

 

“ Appa !! mau pergi kemana,eoh ? “ suara gadis kecil untuk sungguh lucu, pertanyaan meluncur dari bibir munggilnya, ia melihat appanya membawa koper besar.

 

“ emm !! appa mau kerja chagi, kau dirumah bersama eomma ne !! “ siwon membelai rambut gadis kecilnya. Ia tersenyum.

 

“ Ne appa !! Je Hoon sayang appa , Je Hoon juga sayang eomma “ kata-kata itu membuat siwon terharu, gadis sekecil ini sudah memiliki rasa sayang yang begitu besar pada dia dan yuri. Je hoon kemudian memeluk appa-nya yang tengah bersiap memasukki gate pintu keberangkatan.

 

“ Na do appa juga sayang je hoon !! “ siwon kembali tersenyum kali ini ia sedikit mengeluarkan airmatanya ia tak tega meninggalkan puteri kecilnya. Tapi ia percaya dengan istrinya.

 

“ Appa jangan lupa belikan aku es cream ne ! yang banyak appa. Appa cepat kembali , hati-hati disana appa “ gadis itu mencium pipi siwon dan melepaskan pelukannya. Ia kemudian melihat ke arah eomma nya, namun eomma nya tengah sibuk berkutat dengan ponsel yang ada digenggamnya.

 

“ Appa ! kau tak pamit dengan eomma,eoh ? “ tanya nya. Siwon menganggukan kepalanya kemudian siwon menghampirinya istrinya.

 

“ Yuri-ah ! jaga Je Hoon baik-baik, kalau aku mendengar sesuatu yang buruk padanya. aku tak bisa memaafkanmu “ ia nampak serius terlihat dari ekspresinya yang begitu tegas.

 

“ Egh ! ne “ jawab yuri singkat tanpa melihat ke arah siwon dan masih sibuk berkutat dengan ponselnya.

 

“ Yuri-ah ! kau mengerti ? “ siwon sedikit membentak yuri. Dan berhasil membuat yuri mendongakkan kepalanya sejurus kemudian ia menatap siwon.

 

“ Iya ! aku mengerti, kau puas ? “ tukas yuri dengan nada datar.

 

“ aku percaya padamu !! aku pergi “ lalu siwon mencium kening istrinya tersebut.

 

“ciih apa-apaan kau ini ! “ sontak yuri mendorong tubuh siwon. Je hoon hanya bisa memamandangi ke dua orang tersebut dengan tatapan heran.

 

Siwon tak mempedulikan sikap Yuri yang menolak untuk dikecup keningnya, ia melakukan ini demi je hoon, gadis kecilnya. Ia sangat senang ketika melihat appanya mencium kening eommanya meskipun hanya beberapa kali ia dapat mencium kening istrinya sendiri. Siwonpun kembali menghampiri je hoon.

 

“ Saranghaeyo, Je Hoon “ siwon kembali memeluknya dan membelai rambut lurus gadis kecilnya.

 

“ Na do appa ! appa , awas nanti kau ditinggal pesawatnya “

 

“ Ne chagi, appa berangkat ne ! “ siwon beranjak berdiri dan mengambil koper besarnya dan berjalan menuju pintu keberangkatan, ia melambai-lambaikan tangannya dan sambut gembira oleh je hoon. gadis kecil itu kemudian bergumam.

 

“ Jangan lama-lama appa ! aku menunggumu disini “

 

Acara perpisahan keluarga kecil itupun telah usai. Je hoon yang masih menatap nanar kepergian appa-nya sedangkan Yuri sudah tak berada ditempat semula. Kemana ia pergi ? ternyata yuri kini tengah berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya. Lalu ? Je Hoon , bagaimana dengan dia. Omo~ jangan katakan kalau ia meninggalkan puterinya di bandara sendirian. Setelah kepergian siwon tak terlihat lagi oleh Je hoon, ia mulai mencari-cari keberadaan eomma-nya, ia tak melihat eomma-nya, ia nampak kebingungan, bagaimana ia tak kebingungan ? ia terus mencari-cari keberadaan eomma-nya. Namun tanda-tanda keberadaan eommanya tak terlihat oleh je hoon. nampaknya je hoon telah berputus asa, ia tak bisa mencari eommanya. Ia keluar dari bandara lali Ia mulai mendudukan tubuh kecilnya di bangku di seberang halte bus. Lama ia terdiam ditempat tersebut hingga malam menjelang je hoon tetap berada ditempat tersebut, ia mulai menangis, ia takut. Tentu saja ia tak tahu jalan menuju rumahnya. Ia terisak-isak, gelap dan sepi menghiasi tempat dimana Je hoon duduk sekarang.

 

“ eomma !! hikshikshiks “ ia terus saja memanggil eommanya dan menangis terisak-isak.

 

Setidaknya ia tak sendirian sekarang, seorang ahjumma tengah berjalan ke halte bus yang terletak diseberang tempat Je hoon berada. hanya lampu kecil yang menerangi tempat Je hoon kini. Ahjumma itu seolah menyadari keberadaan je hoon. ahjumma itu menghampiri je hoon dan menanyakan alamat rumahnya. Beruntunglah ahjumma itu berbaik hati mengantarkan je hoon pulang ke rumahnya. Dan itu awal kesengsaraan Choi Je Hoon.

 

“ Je Hoon, apa ini Heh ? “

 

“ Ne eomma !! “

 

“ Kau tak dengar Heh ? “ Yuri yang kala itu tengah naik pitam, menjewer telinga Je Hoon.

 

“ Appo , eomma ! Mullo , Je Hoon tak tahu “ jawab Je Hoon sambil menangis.

 

“ Dasar ! kau …. “

 

Plaaaaaakkkkk

 

Satu tamparan mendarat indah dipipi cubby Je Hoon. seketika membuat Je Hoon mengelus pipinya tanpa menghentikan tangisannya.

 

“ Sudaahlah Jangan Menangis “ yuri semakin meninggikan nada bicaranya.

 

“ Ne—-Ne Eomma “ jawab Je Hoon dengan sesengukan.

 

Gadis kecil itu masih saja bisa tersenyum meskipun hidupnya tak seindah senyumannya. Gadis itu seperti malaikat kecil yang sengaja dikirim oleh Tuhan untuk menjaga Yuri, ia sangat sayang pada eommanya, terlihat setiap pagi ia selalu membuatkan sarapan untuk eommanya meskipun hanya roti bakar dan segelas susu itupun sudah nampak jelas bahwa cintanya pada eommanya begitu besar. Ia sudah berjanji pada sang appa, untuk menjaga eommanya selagi appanya tak bisa menjaga eommanya dan dirinya.

 

02-February-2003

 

Pagi ini adalah pagi yang memang ditunggu-tunggu oleh gadis keci itu karena di sekolahnya akan diadakan pentas seni dan di pentas seni tersebut Je hoon akan tampil dengan biola kecilnya. Kali ini ia bangun amat pagi sekali, setiap aktivitasnya pasti ia akan bersenandung kecil menandakan bahwa ia sangat bersemangat menjalani harinya. Tak lupa ia ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk eomma tersayangnya. Setelah dirasa selesai ia kembali melanjutkan aktivitasnya, hari ini ia harus tampil secantik mungkin. Ia ambil seragam sekolah yang baru, sengaja ia memakai seragam itu, karena hari ini hari special. Didepan kaca ia berputar-putar layaknya sang puteri yang akan bertemu pangerannya, senyum mengembang diwajah imutnya. Je hoon mulai menunggu eommanya keluar dari kamar, sesekali ia lirik jam yang bertengger di dinding ruang tengah. Dipeluknya kotak yang berisi biola yang akan menjadi teman duetnya nanti dipentas seni.

 

Ckleekkk

 

Suara pintu terbuka menandakan bahwa si empunya kamar sudah bangun. Yuri yang masih terlihat acak-acakan dengan piyama birunya, menguap dan menggaruk-garuk kepalanya. Dilihatnya Je Hoon yang berseragam rapi dengan rambut yang dikuncir seperti kelinci tengah duduk manis disofa.

 

“ Eomma !! kenapa eomma belum mandi ? “ tanya Je Hoon yang memang melihat eommanya masih berantakan.

 

“ Heh ? lalu ? “ jawabnya enteng.

 

“ Eomma lupa kalau sekarang ada pentas seni di sekolah “ katanya dengan wajah memelas.

 

“ Apa urusannya denganku, pergilah “ ucap Yuri sambil berjalan menghampiri meja makan.

 

“ Tapi aku harus datang dengan eomma “ kata Je Hoon mengekor dibelakang Yuri.

 

“ Shirieo ! “

 

“ Temanku membawa appa dan eommanya, eomma tak mau melihat aku ? “ tanya nya lagi.

 

“ sudah ku bilang, aku tidak mau. Bilang saja eomma dan appamu sibuk “ jawab yuri ditengah-tengah aktivitas menyesap susu yang ia ambil dari meja makan.

 

“ Taa—Taaapi eomma “ rengek Je Hoon yang hampir menangis.

 

“ Sudahlah pergi sana “ Yuri mulai meninggikan suaranya yang melengking itu.

 

“ Eommaa “ air mata je hoon pun tak dapat lagi dibendung, ia menangis. Terpaksa ia pergi ke sekolah tanpa ditemani appa dan eommanya.

 

Sepanjang jalan ia hanya menunduk sedih, sesekali ia masih sesengukkan karena tangisannya yang mungkin belum sepenuhnya ia tuangkan. Sesampainya di sekolah, ia melihat teman-temannya membawa orangtuanya, nampak bahagia sekali. Panggung besar dan dekorasi yang lucu membuat Je Hoon melupakan kesedihannya karena ia datang tanpa appa dan eommanya. Diangkatnya wajah imutnya dan berjalan penuh semangat lagi. Meskipun tanpa eomma dan appa ia harus tampil, memberikan yang terbaik untuk semuanya. Pikir gadis kecil itu.

 

Kini giliran gadis kecil itu naik panggung, senyum manis mengembang di wajah imutnya. Ia mulai menundukkan badannya yang berarti ia memberi hormat kepada penonton yang notabene adalah teman,guru dan juga wali murid.

 

“ Annyehaseo , Jeonuen Choi Je Hoon imnidha , bangapseumidha !! “

 

“ Mianhamnidha Je Hoon tak bisa membawa Appa dan Eomma datang ke acara ini karena Appa Je Hoon sedang berada di Amerika dan Eomma Je Hoon sangat sibuk jadi mereka tak bisa datang. Meskipun mereka tak bisa datang, penampilan ini khusus aku persembahkan untuk Appa dan Eomma Je Hoon. Je Hoon sangat mencintai mereka. Saranghaeyo Appa , Saranghaeyo eomma “

 

Mulai ia gesek-gesekkan biola kecilnya sehingga menimbulkan hasil suara yang begitu merdu. Alunan musik yang sangat menyentuh, keluar dari biola milik Je Hoon, tangan-tangan kecilnya lihai memainkan alat musik itu. Semua penonton terhanyut dalam alunan merdu nan syahdu Je Hoon. ini special untuk Appa dan Eommanya.

 

Prookkk Proookkk

 

Suara tepuk tangan terdengar keras sekali, sebagian dari mereka bahkan memberikan standing applause untuk penampilan je hoon. di atas panggung Je Hoon tersenyum gembira, ia senang melihat teman-temanya dan semuanya bisa menikmati permainan biolanya. Namun sayang, orangtuanya tak bisa melihat hebatnya gadis ini.

 

14-February-2003

 

“ Appa !! Happy Valentine day. Muuaach , Boghosiipoyo appa “

“ ………………………………”

“ kapan pulang Appa ? bulan depan aku ulangtahun appa “

“ ………………………………”

“ mwo ? masih sibuk !! pulanglah sehari saja appa “

“ ………………………………”

“ Jinja ? yeyeyeyeye !! “

“ ………………………………..”

“ Eomma ? emmm sepertinya ia masih sibuk di boutiq appa “

“ …………………………….”

“ Baik appa ! kenapa appa bertanya keadaan eomma padaku ? kau tak pernah menghubungi eomma”

“……………………………….”

“ Ye~ appa ! ya sudah appa , aku sudah mengantuk. Appa baik-baik disana ne ? Saranghaeyo Appa”

“……………………………”

 

—–Piiiippppppppp—-

 

Hari ini adalah valantine , hari kasihsayang. Bagi je hoon, valentine kali ini begitu berbeda, tahun sebelumnya ia selalu merayakan dengan Appanya namun sekarang ia hanya bisa mengucapkan lewat sambungan telefon saja. Namun meskipun kali ini ia tak bisa merayakannya, tapi Je Hoon masih tetap merayakan dengan Eommanya. Ia tak bisa mengatakan happy valentine pada eommanya secara langsung, ia selalu mengatakannya lewat sepucuk surat dan sebatang cokelat yang ia beli khusus untuk eommanya. Surat pink dengan tulisan “ Happy valentine day Eomma , I Love You “, ia letakkan di meja rias sang eomma, Je Hoon tahu eommanya selalu pulang larut malam, jadi ia tak mengatakkan secara langsung kerena jelas ia sudah bergulat dengan bantal dan gulingnya.

 

Dini hari, Yuri memasuki rumah besarnya dengan gelagat seperti orang mabuk, jalannya sempoyongan ditambah lagi dengan tangannya yang memegangi kepalanya. Jelas malam ini ia mabuk berat. Dengan langkah yang tak karuan itu, ia masuk ke dalam ruang tidurnya dan langsung menuju kamar mandi, ia muntahkan seluruh isi yang menyebabkan perutnya mual-mual. Ia kembali dengan jalan yang masih tetap sempoyongan, ia rebahkan badannya di ranjang yang berukuran king bed lalu mulai memejamkan matanya.

 

Sinar mentari terang yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya membuat Yuri mengeliatkan badannya dan mengkerjap-kerjapkan matanya. Kondisinya baik ketimbang tadi malam yang membuat ia samasekali tak sadar, ia mulai menilik sekitar kamarnya, ia melihat sesuatu yang tergeletak di meja riasnya. Diraihnya surat pink itu, dibuka kemudian dibacanya surat itu.

 

Happy valentine day Eomma , I Love You

 

“ ciih apa-apaan anak ini. Valentine ,aku tak mengenal hari itu. Persetan dengan Valentine “

 

Ia remas surat pink itu kemudian membuangnya ditempat sampah, tak cukup surat saja yang dibuangnya, ia juga membuang cokelat pemberian Je Hoon.

 

9-March-2003

 

“ Je Hoon !!!!! “ suara yuri terdengar sangat melengking manakala ia tengah memanggil Je Hoon.

 

“ Ne Eommmaa “ balas je hoon dari dalam kamarnya.

 

“ Appa-mu ? “ tanya Yuri pada je hoon.

 

“ Egh ! Appa  ? “ jawab Je hoon kebingungan.

 

“ ye ! kenapa dia pulang ? “

 

“ Oh~ !! aku yang menyuruhnya pulang eomma ! aku ingin appa ada di hari ulangtahunku eomma “ jawab je hoon sambil tersenyum gembira.

 

“ Aniya !! jangan suruh appamu pulang, ppali katakan ini pada Appamu. Kalau kau tidak mau, akan ku buang dan kubakar biola kesayanganmu “ ancam Yuri pada je hoon sontak je hoon keget dengan ancaman yang ditujukan untuknya. Ia tak mau kehilangan sahabatnya, ia pun mengangguk menyetujui permintaan eommanya. Ia ambil ponsel miliknya kemudian ia ketik pesan singkat yang berisi …

 

Appa , Mianhe , appa jangan pulang ne ! Je Hoon sudah besar, jadi je hoon tak perlu pesta ulang tahun. Appa tetaplah disana, kalau appa ingin pulang, pulanglah lain kali saja, ne !! mianhe appa , Boghosiipoyo ^^

 

Bagaimana bisa Je hoon melewati moments istimewanya tanpa kehadiran appa-nya. Setiap tahun ia selalu merayakannya, namun entah kenapa eommanya melarang appanya untuk pulang ke korea padahal je hoon hanya ingin menghabiskan waktu berharganya bersama keluarga kecilnya. Tapi ya sudahlah demi eommanya ia rela melakukan apapun. Sungguh malaikat kecil yang baik hati.

 

Siang cerah ini, Yuri dan Je Hoon tengah mengunjungi pusat perbelanjan di daerah myeondong. Hari ini mereka akan belanja bulanan untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Troli besar dan belanjaan yang menumpuk membuat Je Hoon tak lagi kuat mendorongnya, maklum saja umurnya baru 10 tahun. mana kuat mendorong troli besar dengan barang yang menumpuk.

 

“ eomma ! aku tak kuat ne “ kata Je hoon pada eommanya yang tengah sibuk memilih-milih alat kosmetik

 

“ Sini “ jawab yuri sambil mengambil alih trolli yang dipegang je hoon.

 

Je hoon hanya bisa terdiam, ia tahu pasti eommanya akan marah lagi. Sering sekali ia membuat marah eommanya, sungguh ia tak bermaksud seperti itu. Lagi-lagi belanjaan yang berat, ia jinjing sendiri sedangkan yuri hanya membawa satu kantong belanjaan dan 3 kantong belanjaan lainnya dibawa Je hoon.

Je hoon dan Yuri tengah bersiap meyebrang karena mobil mereka berada diseberang jalan. Tanpa melihat kiri dan kanan, yuripun melangkahkan kaki kananya terlebih dahulu, sedangkan tubuhnya tetap berada di posisinya sekarang, ia hanya melangkahkan kakinya, tubuhnya tetap tak bergerak mengikuti langkah kakinya, seolah-olah ia akan berjalan tapi ternyata itu hanya untuk mengelabuhi je hoon, ia melirik ke samping, ia tahu bahwa je hoon tentu saja akan mengikutinya, je hoonpun melangkahkan kakiknya beserta tubuhnya untuk menyebrang jalan, je hoon pikir eommanya akan berjalan dibelakangnya, je hoon tak sadar dari kejauhan terdapat mobil yang melaju cepat yang siap menerjang tubuh kecilnya.

 

BRUUAAAAKKKKK

 

Gadis kecil itu terpental jauh dari tempat ia semula berada. wajahnya dipenuhi dengan darah, telinga serta hidungnya tak hentinya mengeluarkan darah segar. Yuri hanya bisa mengangah melihat je hoon tergeletak tak berdaya, ia menutup mulutnya seolah tak percaya apa yang dilakukannya. Bahkan ia sempat tersenyum mengetahui anaknya tergeletak dengan darah dimana-mana.

 

“Mati kau “ gumam Yuri dalam hati.

 

Selang yang terpasang disekujur tubuh je hoon nampak begitu meyeramkan. Biarpun ia tak mengalami patah tulang yang serius namun ia mengalami cidera yang sangat serius pada bagian matanya, karena benturan yang sangat keras dan serpihan kaca masuk ke dalam matanya, membuat je hoon harus kehilangan dunianya.

 

“Eomma ! nyalakan lampunya “ kata gadis kecil itu, matanya masih terbalut dengan kain kasa yang melingkar dikepalanya sedangkan sekujur tubuhnya penuh dengan plester dan perban.

 

“ Eommma !! eodiga ? “ katanya lagi sambil berusaha melepaskan sesuatu yang menghalangi pandangannya.

 

“ Andwae “ suara seorang yeoja , menahan tangan je hoon yang akan bersiap melepas perban yang melingkar di kepalanya.

 

“ Suster !! kau tau eommaku ? “ tanya nya pada suster yang mengecek keadaan je hoon.

 

“ Ne ! dia sedang bersama uisa sekarang, jangan dilepasakan lagi ne ? “ ujarnya lembut sambil membaringkan tubuh je hoon di ranjangnya.

 

“ kenapa aku harus memakai ini, suster ? “ tanya nya lagi.

 

“ biar kamu cepat sembuh !! “ balas suster itu.

 

“ Oh begitu !! suster tolong beri tahu eomma kalau aku sudah sadar. Aku ingin pulang suster “ ucap je hoon.

 

“ Ne ! tunggu ya “ jawab suster itu kemudian keluar dari ruangan je hoon.

 

Gadis kecil itu setia menunggu eommanya yang tak kunjung-kunjung menghampirinya. Sesekali ia merasa kesakitan di bagian tubuhnya, mungkin karena benturan dengan mobil tadi yang membuat sekujur tubuh je hoon memar-memar.

 

Ckleeeekkk

 

Suara pintu terbuka, je hoonpun langsung bangkit dari tidurnya.

 

“ eomma “

 

“ hemm “ jawab yuri singkat.

 

“ eomma , gwenchana ? “ tanya nya pada eommanya. Jelas-jelas eommanya tak mengalami cidera sedikitpun, sempat saja je hoon menanyakan keadaan eommanya.

 

“ gwenchana “ balasnya lalu meletakkan ponsel milik je hoon di meja samping ranjang je hoon.

 

“ eomma !! kenapa aku harus memakai kain ini ! aku tak bisa melihat eomma “

 

“ memang kau tak bisa melihat sekarang !! kau BUTA “ ucap yuri dengan menekankan kata BUTA.

 

“ Mwo ? Buta !! “ jawab je hoon tak percaya.

 

“ Ye~ kau tak percaya !! buka saja ikat kepalamu itu “ kata yuri.

 

Dibukanya kain yang menutup matanya. Setelah ia membukanya, matanya masih terpejam, jelas ia belum bisa melihat. Lalu, ia mulai membuka matanya perlahan-lahan, tetap gelap. Ia mengkerjap-kerjapkan matanya berharap ia dapat melihat kembali, namun hasilnya nihil berulang kali ia mengkerjap-kerjapkan matanya dan mengucek-ucek matanya tetap saja ia tak bisa melihat, semuanya gelap. Dunianya gelap sekarang.

 

“ EOMMAAAAAA “ je hoon berteriak ia masih tak percaya dengan ini semua. Apakah dunianya akan menjadi gelap selamanya, ia mulai menangis, ia hanya gadis kecil yang berumur 10 tahun bagaimana bisa ia mengalami hal seburuk ini, seharusnya diusianya sekarang ia tengah menikmati masa-masa kecilnya yang bahagia, namun tidak bagi je hoon, ia tak bisa lagi melihat indahnya dunia. Ia tak bisa melihat wajah eommanya lagi, bagaimana dengan appa-nya, ia pun juga tak bisa melihat appa yang ia sayangi.

 

Yuri yang merasa terganggu dengan teriakan Je hoon, memilih untuk meninggalkan je hoon sendiri. Entah apa yang dipikirkan yuri, bagaimana bisa ia setega itu pada je hoon, apa karena dendam lama pada sang ayah yang ia lampiaskan pada je hoon, karena je hoon lah yang membuat Dia dan kekasihnya dahulu terpisah. Kenapa harus Je hoon, toh je hoon adalah buah cintanya dengan siwon dan tak ada hubungannya dengan je hoon. bagi yuri, je hoon adalah titisan sang ayah, ia melihat bahwa je hoon mempunyai wajah yang sama dengan sang ayah, itulah membuat yuri sangat membenci je hoon. sebaik apapun je hoon padanya yuri tak mengubrisnya ia anggap je hoon tak hidup di dunia ini. Sementara itu je hoon masih tetap menangis , dan terus memanggil eommanya.

 

“ Eommaaaaaa “

 

“ Eommmaaaaa “

 

Teriakan itu seketika lenyap saat ponsel milik je hoon berdering keras. Sebenarnya ia tak ingin mengangkatnya namun karena sesuatu ia harus mengangkatnya, ia meraba-raba meja yang berada tepat disamping ranjang tidurnya. Ia mulai menekan-nekan tombol yang berada di ponselnya itu, meskipun ia masih tak hafal dengan knot-knot yang ada di ponselnya namun untung saja ia masih mengingat letak tombol hijau.

 

“ yeoboseyo “ ucap je hoon dengan suara yang masih terdengar parau.

 

“ Gwenchana ? “

 

“ appa !! gwenchana appa “ je hoon menahan air matanya. Ia tak ingin membuat appanya khawatir.

 

“ Saengil Chukae Hamnida choi je hoon “ siwon menyanyikan lagu ulangtahun untuk puterinya.

 

“ Hiksss … Hikssss… “ Je hoon tak lagi bisa membendung air matanya.

 

“ Je Hoon, gwencahana ? “ tanya siwon lagi.

 

“ Appaa !! aku bahagia “ tuturnya masih dengan menangis.

 

“ kau bahagia ? “

 

“ ne ! hari ini aku genap 10 tahun appa , aku sudah besar ne ! “ kata je hoon dengan nada sesenggukan

 

“ Anak pintar !! kau mau hadiah apa, chagi ? “

 

“ Aku hanya ingin appa dan eomma bahagia ! “

 

“ Hanya itu ? “

 

“ Ne ~ hanya itu appa !! mianhe appa, aku menyuruh appa membatalkan kepulangan appa “

 

“ Gwenchana chagi !! oh iya , eommamu sudah mengucapkan padamu “

 

“ Sudah appa ! barusan , eomma mengecup keningku appa, betapa senangnya aku appa “

 

“ Jinja ? syukurlah !! kenapa kau belom tidur chagi~ya ? “ ‘

 

“ aku menunggumu appa ! “

 

“ sudahlah sekarang kau tidur ne , besok harus sekolah. Saranghaeyo chagi~ya, semoga hari-harimu indah !! “

 

“ ne~ appa ! na do saranghaeyo. Appa jaga kesehatanmu “ pungkas je hoon di sambungan telefonnya.

 

“ Ne~ Chagiya “

 

—-Piiippppp—

 

Ya hari ini 10-maret, gadis kecil itu tengah berulangtahun sekarang. Seharusnya ditengah hari specialnya ia mendapatkan kado yang terbaik dan terindah, namun apa nyatanya dia malah mendapatkan sesuatu yang buruk. Terpaksa ia berbohong agar appanya tak khawatir dengannya yang sekarang ini buta, ia sembunyikan hal ini dari appanya. Je hoon yakin suatu saat nanti ia akan kembali melihat indahnya dunia. Entah kapan, tapi yang pasti je hoon yakin akan hal ini. Ditengah malam ini, je hoon hanya bisa menangis, apakah ia harus marah dengan Tuhan yang telah menuliskan hal ini, atau apakah dia harus marah dengan eommanya yang menelantarkannya diruangan yang terang ini namun bagi je hoon sekarang gelap tak ada lagi cahaya. Atau dia harus marah dengan dokter yang tak bisa memberikan dia kesembuhan. Entahlah, gadis itu hanya bisa menangis sambil menekuk ke dua lututnya.

 

Siang ini nampak cerah sekali, meskipun langit cerah tetap saja je hoon tak bisa lagi melihat cerahnya matahari. Gadis kecil itu tak punya semangat hidup lagi, ia putus asa. Tak bisa memainkan biola kesayangannya. Semuanya sirna, ia lewati hari-harinya tanpa ada secercah harapan samasekali. Dunianya telah berubah Gelap yaa semuanya menjadi gelap, dalam kondisi seperti inipun, yuri tetap saja memperlakukannya seperti manusia. Senyuman manisnya tak lagi mengembang diwajah imutnya, tak ceria lagi, lingkar mata hitam nampak menghiasi mata gadis kecil itu. Benda kesayangannya tak lagi biola melainkan tongkat panjang yang ia gunakan untuk membantu dia berjalan.

 

Sudah beberapa bulan ini, je hoon hidup tanpa cahaya. Yang bisa ia lakukan adalah berdiam diri di kamar, sesekali hiburan yang ia dapatkan adalah komunikasi dengan Siwon, ya hanya dengan appanya ia dapat tersenyum meskipun sebentar tapi baginya adalah hal langkah yang bisa je hoon rasakan saat ini, berbulan-bulan ia juga hidup dengan kebohongan. Siwon yang jauh disana tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada puteri kecilnya, yang ia tahu adalah je hoon baik-baik saja, begitu juga sang isteri yang nampaknya kehidupannya tentram, damai tanpa ada pengusik yang mengusik hidupnya.

 

 

 

Dinginnya malam membuat gadis kecil itu, meringkuk memeluk tubuhnya dari dinginnya malam. Hujan turun sangat lebat, yang bisa ia lakukan adalah menangis. Kejadian ini sepertinya pernah ia alami sewaktu dulu saat mengantarkan siwon di bandara. Namun kali ini ia tak lagi bertemu dengan ahjumma yang baik hati dulu yang bersedia mengantarkan ia pulang. Ini sudah larut malam, jalanan begitu sepi, bagi gadis 10 tahun seperti je hoon, keluar rumah larut seperti ini adalah bukan hal yang wajar dilakukan oleh anak yang berusia 10 tahun, ia disini bukan tak punya alasan. Iya… ini sama dengan kejadian tempo dulu, je hoon ditelantarkan lagi. Pergi berdua namun Yuri pulang seorang diri. Memang keinginan Yuri untuk melenyapkan anak ini sudah bulat, setelah membuat je hoon buta sekarang ia menelantarkan je hoon sendiri di halte bus dalam keadaan yang tak memungkinkan untuk je hoon pulang kembali, mana tahu ia jalan rumah. Yang ia tahu sekarang adalah hujan dan sepi, ia bisa merasakan tubuhnya kedinginan dan tak terdengar lalu lalang kendaraan.

 

Je Hoon POV

 

Aku sekarang menangis, aku tak tahu lagi harus kemana. Eomma kenapa kau tega sekali padaku. Appa jebal tolong aku sekarang. Aku tahu ini hujan dan sangat sepi, bagaimana mungkin aku bisa selamat.

 

“ Hiksss… Hiksss… Appa , eomma !! “

 

Tap… Tap… Tap …

 

Aku dengar deruh langkah seseorang yang mendekati tempatku berada saat ini, aku harap dia bisa membantuku.

 

“ Seseorang !! adakah orang disana ? “

 

“ Nuguseyo ? “ suara namja yang sepertinya umurnya tak jauh beda denganku.

 

“ Hey !! kau bisa membantu aku ? “ tanyaku pada namja itu.

 

“ Mwo ? aku ? “ jawabnya.

 

“ Ye~ kau ? “

 

 

—TBC—