Tag

,

Tittle    : Regreted

Author : Nicky Ayu Pangesti

(twitt : @nicky_netizen)

(fb : Nicky Seoul Kye)

(e-mail : nicky.netizen@yahoo.com)

Genre   : Sad Romance

Rating  : ?

Cast     : -Oh Sehun

-Shin Hae Rin a.k.a readers

-OC

Length : One Shoot

Disclaimer       : Semua cast yang mampang disini adalah milik Allah dan orang tua mereka masing2 .

Dan tentu saja, FF sejuta garing ini mutlak milik saya.Murnidaripikiran SAYA! #woy!gakusahpakekcapslock kalimbak! ^^V

Warning           : Pengulangan kata, typo berserakan,bahasa ancur2an,cast berantakan,feel dipertanyakan dan berbagai kegajean lain

Basa-basi         : Annyeong Readers… author yang tak layak mendapat julukan author (?) terbit membawa epep sejuta garing, ini epep pertama yg author publish. Jadi,mohom dimaklumi untuk segala kegaringan yang tercipta disini. Don’t bashing, don’t copy, don’t plagiat, RCL tetap berlaku, bisa dibilang sangat diharapkan ^-^V

 

Happy Reading….

 

(Normal POV)

Seorang yeoja dengan susah payah mencoba menghirup udara dari sebuah tabung oksigen yang tersalur oleh sebuah selang yang memanjang dengan masker yang menempel dihidungnya. Sesekali, bola matanya bergerak-gerak mencari sesuatu. Namun, beberapa saat kemudian bola mata itu terhenti  dan kembali menerawang pada langit-langit kamar yang berwarna putih pucat saat menyadari bahwa sesuatu yang dicarinya itu tak ditemukannya. Buliran cairan bening sedikit mendesak dari sudut matanya.

“ceklek…” pintu putih itu terbuka memunculkan sesosok Ahjussi berjas putih dengan sebuah stetoskop yang mengalung di lehernya. Ahjussi itu mendekat ke arah ranjang dimana yeoja itu tengah berbaring dan memulai pekerjaan rutinnya,mengecek kondisi pasiennya itu. Ahjussi itu menghela nafasnya berat.

“Hae Rin-ah.. keadaanmu semakin memburuk,beberapa hari belakangan ini pun kau tak mau makan” lirih Ahjussi itu kemudian beranjak keluar meninggalkan yeoja bernama Hae Rin itu terbaring sendirian di ranjang.

(Hae Rin POV)

Kurasakan nyeri disekujur tubuhku yang semakin bertambah. Nafasku tersendat,dengan susah payah kuedarkan pandanganku yang sedikit kabur ke penjuru ruangan ini sekedar mencari sesosok yang amat kurindukan. Eoddika?aku tak menemukannya. Air mataku sedikit keluar dari sudut mataku melihat namja yang kucari tak berada di ruangan ini untuk sekedar tersenyum atau memandangku dari balik pintu

“oppa..bogoshippeo aniya?” batinku

***

(Normal POV)

“oppa,waeyo? Sedari tadi kau hanya diam” ucap seorang yeoja kepada namja yang berdiri disampingnya

“ah,ani Jae In-a, mianhe. Tiba-tiba saja perasaanku jadi tidak enak”papar namja itu

“oh.. yasudah, kajja”jawab yeoja bernama Jae In itu sambil menggamit lengan sang namja

“oppa, lihat!”seru Jae In sambil menunjuk pada deretan kotak cokelat yang terpajang di sebuah etalase kaca dan kemudian menariknya.

“umm..sepertinya enak,kau mau yang mana oppa?’tanya Jae In lagi

“waeyo?nae gaseumi neomu appayo. Kenapa perasaanku jadi kacau seperti ini?”batin namja itu tanpa memperdulikan Jae In yang terus berbicara padanya.

“ya’ Sehun oppa! Wae ireokhe?kau tak mendengarku eoh?”tegas Jae In saat melihat namja disebelahnya itu tak bergeming sama sekali

“mianhe,jeongmal mianhe,aku rasa pikiranku saat ini sedang kacau chagiya”ujar namja bernama Sehun itu sambil memijit keningnya

“jinjja?kenapa kau tak mengatakannya padaku oppa?”sela Jae In kemudian

“ah,nado mollayo,sudah lupakan saja,mungkin aku hanya kelelahan”ucap Sehun akhirnya

“geuresseo,lebih baik kita pulang”jawab Jae In

***

Di perjalanan, Sehun pun masih terdiam dan sibuk dengan pikirannya yang tiba-tiba kacau itu. Jae In yang melihatnya pun memilih diam,membiarkan namja chingunya itu tetap terfokus ke kemudi.

(Sehun POV)

“ada apa ini?kenapa perasaanku tiba-tiba kacau seperti ini?”batinku, sesekali aku melirik ke arah Jae In yang memilih diam,mungkin dia faham bahwa pikiranku sedang kacau

***

Setelah mengantar yeojachinguku pulang,akupun segera menjalankan meninggalkan rumahnya dan melesat pulang. Malam sudah sangat larut, namun entah kenapa hatiku belum tenang saat itu juga. Sampai dirumah, aku segera membantingkan tubuhku  ke kasur

“akhhhh…..!!!”aku mengacak rambutku frustasi

***

(Normal POV)

“Agassi, keadaanya belum juga membaik,malah bertambah buruk”jelas Uisanim yang biasa menangani Hae Rin kepada seorang yeoja.

Yeoja itu terisak sambil berhambur ke pelukan namja disampingnya.

“uljima,Ji Soen-a,aku yakin pasti Hae Rin akan segera sembuh,bersabarlah chagiyya” ucap namja itu sembari mengelus puncak kepala Ji Soen lembut.

“Geunddae oppa,tapi ini sudah terlalu lama sejak ia mengidap penyakit itu,harus berapa lama lagi kita menunggu?”ucap Ji Soen dengan air mata yang semakin membanjiri wajahnya

Merekapun melangkah masuk kedalam ruangan tempat dimana sahabat mereka tengah terbaring lemah dengan beberapa perangkat alat bantu yang membuatnya masih bisa bertahan hingga detik ini. Ji Soen menatap nanar pada sahabatnya itu, wajahnya pucat,bibirnya kering,matanya masih terpejam dengan nafas yang tidsak begitu teratur. Hening.. hanya terdengar suara monitor pendeteksi detak jantung.

“Suho oppa…”lagi-lagi Ji Soen menangis menyaksikan keadaan sahabatnya itu.

“naega ara chagiya,kita berdo’a supaya Hae Rin cepat sembuh ne?” hibur Suho sembari memeluk yeojachingunya itu.

Ji Soen mendekat kea rah Hae Rin dan mencoba memegang tangan pucat itu. Dingin.

“bohoshippeo”ucapnya sambil menyeka air matanya

Tanpa Ji Soen sadari, tangan ringkih itu bergerak pelan mencoba memberitahunya bahwa tubuh itu mulai memasuki alam sadarnya. Ji Soen yang menyadarinya cepat-cepat menyeka wajahnya, mata yeoja itu perlahan terbuka memperlihatkan bola mata cokelatnya yang sudah lelah terpejam.

“Hae Rin-a..”lirih Ji Soen

Hae Rin sejenak mengatur nafasnya, lalu mencoba menggerakkan bibirnya,yeoja itu berusaha mengatakan sesuatu

“ngghhh…J-Ji Seon-a…”lirihnya tersendat

“nae yeogisseo”jawab Ji Soen

“ak-aku..sudah lelah..seperti ini terus..hhh”ucap Hae Rin menahan rasa sakitnya

“museum suriya! Kau jangan berbicara seperti itu”sentak Ji Soen

Hae Rin mencoba menarik bibirnya membentuk seulas senyum.

“go..gomawo…”ringkihnya

Ji Soen kembali meneteskan air matanya.

“an-andai saja..aku bisa..hidup sedikit..hhh…lebih lama di dunia i-ini…”ucapnya terputus-putus

Sejenak Hae Rin berhenti, berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk berbicara

“a-apa.. Sehun oppa..ahh..baik-baik saja?”tanyanya

Ji Soen mengangguk dengan sebuah senyum yang dipaksakan

#FLASHBACK#

“oppa…saranghae”ucap seorang yeoja dengan senyum bahagia yang terukir di wajahnya

Namja itu tersenyum sembari mencium puncak kepala sang yeoja. Namun  tiba-tiba yeoja itu merasakan sakit yang luar biasa menyerang kepalanya. Perlahan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

“uhuk…”yeoja itu terbatuk pelan diikuti cairan merah yang mengalir dari sudut bibirnya,cepat-cepat ia mengusapnya dengan sapu tangan

“chagi.. gwenchana?tanganmu dingin sekali” tanya sang namja sedikit khawatir

Yeoja itu mengangguk pelan

“Sehun oppa… jangan pernah tinggalkan aku ne” ucap yeoja itu

“tidak akan chagi, kenapa kau berbicara seperti itu?” jawab namja yang bernama Sehun itu heran

“ani oppa.. yaksokkaejo…”ucap yeoja itu lagi sembari mengulurkan jari kelingkingnya

“yaksok..”balas  Sehun sembari mengaitkan jari kelingkingnya.

“Shin Hae Rin.. neon nekkeoya “ucap Sehun sembari memeluk yeoja itu

*SKIP*

            “Hae Rin-a.. Hae Rin-a..”panggil seorang yeoja dengan tergesa-gesa

“wae Ji Soen-ssi? Wajahmu panik?”jawab Hae Rin

“Sehun.. Sehun oppa dia..”Ji Soen menghentikan ucapannya

“Sehun oppa?dia kenapa?” Tanya Hae Rin yang tak kalah panic sambil menggoncang-goncangkan lengan sahabatnya itu

“dia..dia..kecelakaan, kajja palliwa kita kerumah sakit ”ujar Ji Soen sembari menarik lengan Hae Rin

Seketika itu juga Hae Rin merasa sendi-sendinya melemas,bulir-bulir air mata segera meluncur dari kelopak matanya,dia tersungkur di lantai mendengar ucapan Soen barusan

“andwe..andwe…andwe….!!!!”jeritnya histeris, tanpa disadarinya darah segar menetes begitu saja dari hidungnya

“Hae Rin-a, neo gwenchana?”ujar Ji Soen panik melihat wajah Hae Rin yang pucat pasi disertai darah yang mengalir dari hidungnya

***

Dengan mata yang sembab, Hae Rin mendekati Sehun yang terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit, rasa sakit dan pilu itu membuat tubuh dan hatinya semakin rapuh

“oppa..”lirihnya, air mata itu memaksa keluar kembali dari sudut matanya

Selama beberapa hari, Hae Rin lah yang selalu menjaga Sehun. Seakan tak peduli dengan keadaannya yang sama-sama lemah,yang ia inginkan saat ini hanyalah kesembuhan Sehun

“oppa..jebal ireonayo,apa oppa tak sayang padaku lagi?”isaknya

“sudahlah Hae Rin-a, Sehun oppa pasti akan baik-baik saja” hibur Ji Soen sembari menepuk pundak Hae Rin

Hae Rin hanya tersenyum getir dan memeluk sahabatnya itu.

“engghhh….”terdengar Sehun mulai menggeliat pelan namun cukup membuat kedua yeoja itu mengalihkan pandangan mereka. Sehun meraba kepalanya yang terasa pusing.

“na..naega eoddisseo?”tanyanya sembari mengedrakan pandangannya ke penjuru ruangan

“kau di Rumah Sakit oppa” ujar Hae Rin sembari terisak melihat namja itu terbangun

“n-neo..nugunya?” tanya Sehun yang cukupmembuat Hae Rin tersentak kaget

“itu tidak lucu oppa, aku Hae Rin,yeojamu”jawab Hae Rin sambil tersenyum nanar

“ak-aku..sungguh tak ingat sama sekali”kini pandangannya beralih pada yeoja dibelakang Hae Rin diamana Ji Soen tengah berdiri

“Ji Soen-a.. apa yang terjadi?” Tanya Sehun tanpa memperdulikan Hae Rin yang mulai menangis

“kau kecelakaan oppa, selama ini Hae Rin lah yang selalu menjagamu”ujar Ji Seon sembari menunjuk Hae Rin

“go-gomawo..jeongmal gomaeo Hae Rin-ssi,geunddae,mianhe aku benar-benar tak mengenalmu,apa kita punya hubungan sebelumnya?” ucap Sehun datar

Yeoja itu semakin terpukul,entah dosa apa yang telah dilakukannya hingga Tuhan memberinya ujian seberat ini, ujian yang tak sanggup dihadapinya

“kau benar-benar tak ingat padaku?” Tanya Hae Rin

Sehun menggeleng lemah. Hae Rin menunduk merasa beban yang ditanggungnya kali ini sangatlah berat

“jeosonghabnida Agassi..” ujar Sehun kemudian

Hae Rin yang tak siap menerima kenyataan itu pun segera keluar dari ruangan dan menangis sejadi-jadinya. Sakit..hanya itu yang dirasakannya saat ini

“Ini tidak mungkin,ini pasti mimpi,mana mungkin Sehun oppa bisa mengingat semua hal kecuali aku?ingatan terbesarnya..”Hae Rin mencoba memungkiri kenyataan pahit yang sedang dihadapinya ini. Namun percuma,kenyataan tak bisa diubah

 

“aku..aku..tidak kuat..”ucapnya disela-sela tangisnya

***

“benturan di kepalanya tak menutup kemungkinan untuk mengalami amnesia ”papar seorang uisanim

“gomawo uisa”jawab Ji Soen sembari berlari menyusuri seluruh penjuru Rumah Sakit,namun percuma dia tak menemukan Hae Rin dimanapun

#FLASHBACK END#

“Ji Soen-a..’lirih Hae Rin

“ne,kau mau aku mengambilkan sesuatu untukmu?” tawar Ji Soen

Yeoja itu menggeleng lemah. Ia merogohkan tangan ringkihnya yang sedikit bergetar ke saku bajunya dan kemudian menyerahkan seuntai kalung kepada Ji Soen

“ige mwoya?”Tanya Ji Soen heran

“kalau kau..ber…bertemu Sehun oppa,tolong berikan itu padanya” ucap Hae Rin

“aku yakin kau pasti sembuh dan akan menyerahkannya dengan tanganmu sendiri’’tambah Ji Soen sambil tersenyum pada sahabatnya itu

Hae Ri menggeleng lemah

“kau tahukan..hidup..ku tak akan lama lagi..”lirih Hae Rin

“ani! Kau pasti sembuh”ujar Ji Soen menahan air matanya yang hampir jatuh

“go..gomawo telah memberi semangat padaku..Suho oppa sangat beruntung memiliki yeoja sepertimu…”jawabnya terengah-engah begitu rasa sakit itu kini mulai menjalari tubuhnya

Ji Soen pun tak dapat lagi membendung air matanya lebih lama dan memeluk erat sahabatnya itu. Dia tak tahu sampai kapan dan hari keberapa ia masih bisa melihat sahabtnya sebelum malaikat menjemputnya

“uhuk…”yeoja itu kembali terbatuk ringkih dan menghela nafasnya berat

“aku lelah,aku sangat lelah……”ujar Hae Rin

“istirahatlah”ujar Ji Soen sambil menarik selimut dan menutupi tubuh Hae Rin

***

Ting-tong…

Seorang yeoja menekan tombol bel di depan sebuah apartemen,tak berapa lama pintu apartemen itu pun terbuka.

“Ji Soen-ssi tumben sekali kau menyambangi apartemen ku,ada apa?” ucap seorang namja

“mmm…Sehun oppa aku ingin mengatakan sesuatu padamu” ucap Ji Soen

“kajja,masuklah” ujar Sehun sembari melebarkan pintu
“ani oppa,yogi aniya,kau sedang tidak sibuk kan?”tanya Ji Soen

Sehun mengerenyitkan dahinya

“geureseo,aku ambil jaket dan kunci mobil dulu”ujarnya sambil masuk ke dalam apartemen

“pakai mobilku saja”tawar Ji Soen

Sehun hanya mengangguk dan mengekor dibelakangnya

“urineun eodikka?” Tanya Sehun
“ke rumah sakit” jawab Ji Soen yang tetap terfokus pada kemudi

“rumah sakit?siapa yang sakit?” Sehun masih bertanya

“nanti kau juga akan tahu” ucap Ji Soen

Setelah mereka sampai di RS, Ji Soen segera mengajak Sehun masuk keruang dimana Hae Rin dirawat. Sehun terdiam sembari memperhatikan yeoja yang terbaring itu

“geu..geu yeoja nuguya?” Tanya Sehun

Ji Soen tak menjawab.Tiba-tiba ingatan itu kembali merasuki kepala Sehun.Rasa sakit itu kembali menyerangnya, perlahan Sehun mendekati Hae Rin dan memandangi wajah pucat itu berusaha menemukan kembali ingatannya

Tiba-tiba Ji Soen menyerahkan seuntai kalung kepada Sehun

“ige mwoya?”tanyanya heran

“itu dari Hae Rin” jawab Ji Soen sambil menunjuk pada Hae Rin

Dilihatnya kalung itu dengan seksama dimana huruf “SH” terpatri pada kalung itu

“museum suriya Ji Soen-a?”tanya Sehun

“dia yeoja yang tertulis dalam kalung itu oppa,dia Shin Hae Rin,yeojamu”tegas Ji Soen

Sehun semakin merasakan sakit yang luar biasa,ia mencoba memejamkan matanya berharap rasa sakit yang menderanya hilang

“akhhh…..!”teriaknya frustasi

“oppa,gwenchana?”Tanya Ji Soen panik

“Ji Soen-a..ak..aku..aku..” Sehun terdiam kemudian membuka matanya,pandangannya kini beralih pada Hae Rin

“andwe…andwe..Hae Rin-a..apa yang telah kulakukan?”teriaknya histeris dan langsung mendekap erat tubuh itu

“mianhe chagi,jeongmal mianhe,ini semua salahku, andai saja aku tak kehilangan sebagian ingatanku..andai saja saat itu aku ada..andai saja..ahhh..”lagi-lagi Sehun menjerit disertai bulir-bulir air mata yang mulai berjatuhan dari mata sipitnya. Keringat dingin mulai merembes dari pori-pori kulitnya

Sehun masih mendekap tubuh itu sembari mengguncang-guncangnya,namun tubuh itu masih diam tak merespon

(Sehun POV)

Tiba-tiba saja aku merasakan sakityang luar biasa menyerang kepalaku,memori-memori yang sempat hilang itu mulai bermunculan,memaksaku untuk mengingatnya kembali. Tuhan,,kenapa ini sakit sekali.

(Normal POV)

Sebersit rasa bersalah mulai menjalar di hati Sehun. Ia tak menyangka jika selama ini ia ternyata telah menyia-nyiakan orang yang sangat mencintainya,namja itu merutuki tragedi kecelakaannya beberapa bulan lalu yang hampir memusnahkan harapan yeoja yang amat dicintainya,menghilangkan kebahagiaan yang sebenarnya. Sehun terus mendekap tubuh lemah itu seakan ikut menanggung rasa sakit yang diderita Hae Rin

Dalam hati,ia tak mungkin memaafkan dirinya sendiri. Ia tak tahu seberapa banyak air mata yang telah ditumpahkan Hae Rin untuknya,seberapa lelah ia menunggunya kembali,dan seberapa kesabaran yang teruang sia-sia saat ia tak kunjung menemui Hae Rin. Ia merasa jatuh dalam di jurang penyesalannya

“engghhh…”sebuah suara berhasil menyadarkan Sehun dari lamunannya

Yeoja itu perlahan mulai membuka matanya,mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba beradaptasi dengan sinar lampu yang cukup menyilaukan,sayup-sayup ia mendengar suara yang begitu dirindukannya,suara malaikat itu. Sehun menatap tak percaya pada pada Hae Rin yang kini mulai membuka matanya,yeoja itu berusaha tersenyum

“chagiya..”lirih Sehun

“o-oppa…”rintihnya

“mianhe..jeongmal mianhe chagi”isak Sehun

Yeoja itu menggeleng lemah

“kau..kau mengingatku?”Tanya Hae Rin lembut

Sehun mengangguk

“saranghae chagiya,kau harus sembuh untukku”bisik Sehun

Hae Rin menghela nafasnya panjang. Tak dapat terlukiskan betapa bahagianya hati Hae Rin saat itu,saat ia bisa melihat kembali namja yang selalu diharapkannya selama ini, Senyum itu tak kunjung pudar dari wajah pucatnya

“op-paa..bogoshippeo neomu..”isaknya saat buliran air mata terjatuh begitu saja dari sudut matanya

(Hae Rin POV)

Entah kenapa mata inimulai terbuka dengan sendirinya seakan memberiku instruksi,inilah saat-saat terakhirku melihat dunia,sayup-sayup aku bisa mendengar suara itu,suara namja yang begitu aku rindukan.

Tuhan,apa aku sednag bermimpi?ataukah aku telah berada di alam lain?ataukah ini hanya fatamorgana semata?namun perlahan bayangan namja itu mulai terlihat jelas,apa ini malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk mencabut nyawaku?kenapa ia tampan sekali?
“chagi.”lirihnya

Ya Tuhan,dia memanggilku,apa dia namja yang amat kurindukan?

“o-oppa”aku coba memanggilnya lirih

Aku tak percaya saat sosok itu mendengarku dan bahkan menjawabku,tak percaya saat sosok yang mendekapku saat ini benar-benar namja yang selama ini kurindukan. Bahkan aku tak bisa menggambarkan betapa aku sangat merindukannya

“op-paa..bogoshippeo neomu..”lirihku

Sekali lagi aku berterima kasih kepada Tuhan karena hingga detik ini aku masih bisa merasakan hangat pelukannya sebelum mataku terpejam untuk selamanya. Namja itu semakin mendekapku erat. Perlahan kurasakan bibir hangatnya menyentuh bibirku lembut. Tuhan, tahanlah malaikatmu sebentar saja,kumohon

Sehun oppa kembali menatapku nanar,kucoba menarik bibirku membentuk seulas senyum, senyuman terindah yang hanya kupersembahakan kepada orang yang sangat kucintai, karena entah kenapa aku merasa ada makhluk lain yang juga hadir dalam ruangan ini.

Ya,makhluk suci yang telah diutus Tuhan untuk menjemputku,membawaku pergi. Terima KasihTuhan.. Kau masih mengizinkanku untuk mengenang saat-saat terakhir ini..

Kini sosok suci itu mulai mendekat kearahku,memberiku cahaya terang menyilaukan yang terasa sejuk menerpa wajahku. Perlahan kurasakan hawa dingin mulai menyelimuti tubuhku,malaikat suci itu mencoba menarik jiwaku dengan tenang. Aku tersenyum sebelum makhluk itu benar-benar membawa sukmaku pergi

“Saranghae Oh Sehun..”itulah kata-kata terakhir yang sempat terucap dalam batinku

(Normal POV)

Hae Rin tersenyum sebelum matanya benar-benar terpejam. Sehun yang menyadarinya pun segera mengguncang-guncangkan tubuh itu

“chagi..chagiya..kenapa kau diam?’ujar Sehun dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. Terlihat layar monitor yang memunculkan garis datarnya pertanda tak ada lagi detak jantung yang terdeteksi. Namja itu tetap bersikeras membangunkan Hae Rin,namun sia-sia,raga itu tetap diam tak bergerak,wajahnya pucat,bibirnya kering,nafasnya terhenti,namun ia tersenyum dalam tidur panjangnya. Ia tersenyum pada dunia sebelum maut menjemputnya. Jiwa..jiwa itu menghilang,hanya raganya yang masih tersisa,namun tidak dengan hatinya yang tulus mencintai Sehun. Menyisakan seulas senyum terindah untuk namja yang paling dicintainya di dunia ini.

“Hae Rin-a..!!ireona jebal ireona..!!”teriaknya histeris

Ji Soen menggeleng sambil menepuk pundak Sehun pelan. Ia juga tak menyangka jika sahabatnya itu akan meninggalkannya secepat itu.

“andwe..andwe..!!!” Sehun memeluk erat raga itu seakan tak rela arwahnya menghilang

******

Beberapa orang berpakaian serba hitam terlihat mulai berjalan menjauhi makam yang masih terlihat basah itu. Namun,seorang namja masih terlihat setia menunggu makam sambil sesekali mengusap nisan. Seakan tak peduli dengan matanya yang sudah kering karena terlalu sering menangisinya,namja itu kembali meneteskan air matanya

“saranghanta mariya,Shin Hae Rin nae yeoja” ucap namja itu dan kemudian beridiriberniat meninggalkan makam itu dengan berat hati. Sejenak Sehun berhenti dan kembali menatap makam itu. Hembusan angin terasa lembut menerpa wajah tampannya.

“saranghae Sehun -ssi”terdengar sayup-sayup suara itu perlahan menjauh dan hilang bersama angin. Dia tersenyum sambil berlalu meninggalkan makam yeoja yang dicintainya. Ia yakin suatu hari nanti dia akan menemukan Shin Hae Rin dalam waktu dan ruang yang berbeda. Entah besok atau kapan.. namun ia yakin,hati dan cinta Hae Rin tetap untuknya

*END*

Fiuhh… #elapingusD.O# Gimana..gimana.. gaje?garing?gila? kriuk-kriuk krenyes-krenyes? Jeongmal gomawo buat readers yang sudah bersediamembaca n coment.. author gak mau ngomong banyak-banyak dengan kegilaan epep sejuta garing ini. Terakhir, tolong masukkan jangkrik dan krupuk anda pada tempatnya. Gamsahamnidaa ^^