k_副本

Author : @CAEL

BLOG : My Little House

Title : CHU~ “Valentine Night Day”

Main Cast :

Cho Ji Hyun [OC]

Cho Kyu Hyun [Super Junior]

Lee Dong Hae [Super Junior]

Shin Seul Byul [OC]

Genre : Romance, Family

Rated : PG-15

Length  : Two Shoot

Annyeonghaseyo ~

Karena kebetulan aku author baru disini, jadi aku share FFku yang ada dulu. dan aku usahakan untuk membuat FF baru yang bakal aku share disini.

OK! ^^v

Jika ada kesamaan pada cerita mungkin itu hanya kebetulan dan FF ini aku adaptasi dari novel Oppa&I kedua.

Ranjau typo beretebaran, EYD masih dalam tahap belajar, dan alur cerita masih compang-camping atau kecepetan (?) gak karuan. Cast milik Tuhan Yang Maha Esa. :D . Beri komentar yang baik untuk masukan yak!! :)

No bash!! No fanwar!! Happy reading ^^

Segelincir cahaya matahari pagi mulai beranjak melabung lebih tinggi untuk menyinari atmosfer kota Seoul yang mulai memanas dengan kesibukan masyarakat metropolitannya. Tetapi, cahayanya sama sekali tak berhasil mengusik kehidupan seorang Cho Ji Hyun yang tengah berkutat dengan sebuah pensil dan buku, dengan tangan yang bertumpu pada sebuah meja belajar yang ada di sisi kamarnya.

Kedua bola mata gadis itu mulai berputar menerawang setiap lekuk kamar yang bernuansa pink dengan interior sederhana yang menggambarkan jelas sosok Cho Ji Hyun.

Gadis itu sedang berusaha mencari ide-ide aneh di otaknya. Tiba-tiba, kedua matanya terkesiap setengah kaget, ketika sebuah kata aneh yang terdiri dari tiga huruf tiba-tiba melongos santai dibenaknya yang tadinya tengah sibuk menyusun format kata-kata untuk kelanjutan cerita novelnya yang masih dalam proses pembuatan.

“CHU~?” ucap Ji Hyun polos, tiba-tiba kata-kata itu terucap tanpa dosa begitu saja –seolah tanpa perintah dari sitem koordinasi tubuhnya yang mengantarkan respon ke sistem saraf pusat,

“Ya~!! Apa itu CHU? Kenapa aku baru pertama mendengarnya dan… itu ku dengar sendiri dari mulutku?” gumam Ji Hyun bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“CHU? Apa itu? Nama buah? Hewan? Ataukah Negara?” kata Ji Hyun polos, dengan dagunya yang bertumpu pada pensil yang ia pegang hendak memikirkan suatu hal, “Ish… Apa sih itu CHU? Sudahlah –lupakan… lupakan saja…” Ji Hyun berusah meremove kata yang seolah tak berdosa muncul di otaknya secara tiba-tiba itu.

Selang beberapa menit, ternyata semua itu di luar pemikiran Ji Hyun. CHU dan CHU terus menaungi bagian dalam otaknya. Tidak biasanya, ia menemukan sebuah kata aneh tapi tak tau maksudnya. Padahal biasanya –otaknya  bekerja seperti kamus bahasa yang memilki ribuan stok kosakata beserta maknanya. Sedari tadi, otaknya sudah membuka ribuan lembar kamus yang tersedia di mesin otak milik Ji Hyun –tetap saja tak ada daftar kosakata yang menunjukan maksud dari kata yang tiba-tiba muncul di otak aneh seorang Cho Ji Hyun. Apa sih itu CHU?

Ji Hyun mulai memainkan pensilnya di udara dengan jari-jari mungilnya dan terus memikirkan bagaimana cara agar dirinya tidak terus dihantui dengan sebuah rasa penasaran terhadap kata itu,

“Ahaa… Oppa…” seru Ji Hyun dengan senyum sumringah layaknya seseorang yang berhasil menyatukan Korea Selatan dengan Korea Utara.

“Oppa… ” kata Ji Hyun sedikit berteriak seraya mengangkat pantatnya beranjak dari kursi belajarnya, berniat untuk mencari seseorang yang sepertinya ia lebih berpengetahuan dibanding dirinya yang sudah berusia 17 tahun, namun pengetahuannya tak begitu luas mengenai dunia luar yang semakin aneh menurutnya.

Kedua mata Ji Hyun mulai mengedar di ruang tengah yang cukup luas, sentuhan manis interior klasik kesukaan Eun Ji –Eomma Ji Hyun tertata rapi nan apik di ruangan ini. Mata Ji Hyun segera menangkap cepat sosok yang sedari tadi sudah dijadikannya daftar  narasumber yang siap akan ia wawancarai mengenai bahan pembicaraannya yang berjudul –CHU .

“Oppa…” kata Ji Hyun sedikit berteriak saat mendapati kepala Oppanya itu tengah menyebul di balik soffa berwarna putih yang berhadapan langsung dengan sebuah telivisi pintar keluaran baru.

“Oppa…” panggil Ji Hyun yang kini sudah berpindah posisi, duduk di sebelah Oppanya.

“Eung,” jawab Cho Kyu Hyun tanpa menoleh ke arah Ji Hyun yang sudah mengerucutkan bibirnya ke depan tanda sebal. Iklan parfum dengan bintang iklan personil SNSD yang terpampang di telivisi pintar di hadapannya,ternyata  sukses berhasil menghinoptis Kyu Hyun.

“Ya~!! Oppa, jahat sekali. Kenapa kau tak menjawabku? Lebih baik aku kembali tinggal di Busan bersama Helmeoni,” cecar Ji Hyun, kedua tangannya sudah terlipat di depan dada dan memalingkan wajahnya ke arah lain.

Kyu Hyun mulai terkekeh melihat tingkah adik perempuannya yang baru menginjak usia remaja tengah duduk di sebelahnya dengan pipinya yang sengaja Ji Hyun poutkan, “Ji Hyun-a, kau kenapa?” tanya Kyu Hyun tak berdosa dan matanya masih terpaku dengan suguhan acara televisi pintar itu.

Ji Hyun teguh untuk berdiam dan mengatupkan mulutnya rapat-rapat, Oppanya benar-benar membuatnya kesal.

“Ji Hyun-a,” panggil Kyu Hyun melirik adik perempuan satu-satunya itu.

Karena tak mendapatkan respon sedikitpun dari Ji Hyun, Kyu Hyun sedikit menggeser posisi duduknya dan memeluk Ji Hyun dari belakang.

“Mianhae, kau marah dengan Oppa?” Kyu Hyun menarik nafasnya berat.

“Ish… Oppa,” tepis Ji Hyun berusaha melepaskan tangan Kyu Hyun yang melingkar di perutnya.

“Ji Hyun-ah, sebenarnya ada apa? Bukannya tadi pagi kau bilang ingin seharian berada di kamar?” tanya Kyu Hyun.

Ji Hyun berusaha menghilangkan emosinya, karena kata CHU yang terus mendesak otak dan membuat penasaran dirinya, “Gwaenchanayo, aku ingin bertanya padamu Oppa!”

“Ya, apa yang ingin kau tanyakan gadis kecil?” Kyu Hyun mengacak rambut Ji Hyun gemas.

“Apa itu CHU~?” tanya Ji Hyun polos tanpa meragukan perkataannya seraya mengerucutkan bibirnya –penekanan pada huruf ‘U’,

Mata Kyu Hyun membulat sempurna setengah kaget mendengar pertanyaan yeo-saengnya itu, sejak kapan gadis polos seperti Ji Hyun bisa mengetahui hal yang masih rawan dibicarakan untuk gadis seumurannya.

Kyu Hyun memutar bola matanya, sesekali menoleh ke arah dapur, ia takut Eun Ji –Eommanya mendengar perkataan dongsaengnya barusan.

“Berapa usiamu?” cletuk Kyu Hyun.

“Ya~!! Oppa, aku ini adikmu dan… kita ini saudara kembar. Kau tak menganggapku sebagai saudara kembar? Seharusnya… kau tak mengajakku lahir ke dunia waktu itu,” protes Ji Hyun tak terima melihat Oppanya tak mengakui usianya yang hanya selang 1 menit dengannya.

Kyu Hyun terkekeh, “Apa kau benar ingin mengetahuinya?”

“Nde! katakan apa itu CHU, Oppa?” ungkap Ji Hyun memaksa.

“Apakah kau pernah merasakan cinta?” tanya Kyu Hyun menatap Ji Hyun, dimana membuat kedua manik mata mereka saling bertemu.

“Cinta?” gumam Ji Hyun polos sambil menggigit bibir bawahnya berusaha berfikir,

“Kau akan mengetahui apa itu CHU saat kau bisa merasakan cinta yang sebenarnya dari orang yang kau cinta pada waktunya nanti,”

“Lalu… Apa itu CHU?” tanya Ji Hyun yang tak berhasil mencerna perkataan Kyu Hyun,

“Ya~!! Kau masih terlalu kecil untuk mengetahui hal ini,” Kyu Hyun kembali mengacak-ngacak rambut Ji Hyun dan membuat gadis itu kembali mempoutkan pipinya.

“Ji Hyun-a… Kyu Hyun-a… apa yang sedang kalian bicarakan?” sosok Eun Ji tiba-tiba muncul dari arah dapur dan membuat kedua saudara kembar itu menoleh ke belakang mencari asal suara itu. Sebuah pemandangan yang tak aneh untuk Kyu Hyun dan Eun Ji, melihat wajah Eommanya yang sendu di setiap harinya.

“Eomma…” Ji Hyun mendongak melihat Eun Ji yang sudah berdiri tepat di samping soffa,

“Kau menangis lagi Eomma… aku sudah bilang – “

“Eomma habis mengupas bawang… makanya Eomma terlihat seperti habis menangis,” sahut Eun Ji berbohong  sebelum Kyu Hyun menyelesaikan perkataannya. Eun Ji sudah mengetahui sebelumnya kemana arah tujuan perkataan anak laki-lakinya itu. Appa.

“Eomma… kau bohong kan? Aku tidak mau terus-terusan melihat Eomma bersedih karena Appa yang pergi meninggalkan kita entah kemana,” Kyu Hyun terlihat sedikit membentak seraya beranjak berdiri dari soffa, moodnya runtuh begitu saja setiap kali melihat Eommanya lagi dan lagi terlihat selalu habis menangis.

“Ya~!! Oppa, apa kau tidak diajarkan sopan santun, eoh?” Ji Hyun angkat bicara, setelah beberapa menit ia hanya berdiam diri. Sebenarnya hati Ji Hyun sakit, sakit setiap kali melihat Kyu Hyun memarahi Eun Ji yang selalu terlihat menutupi sebuah kesedihan di sebuah bibir yang tampak memucat, kedua matanya sembab, bahkan terlihat jelas lengkungan hitam di kantung mata Eun Ji.

Semenjak beberapa minggu kepergian Appa mereka yang tidak diketahui keberadaannya, seolah ada sebuah sisi yang hilang dalam diri Eun Ji. Ia hanya bisa menaruh senyum palsu di wajahnya, takut melihat Ji Hyun dan Kyu Hyun ikut merasakan kesedihan yang sama dengan dirinya. Bukannya itu adalahh kewajibannya sebagai  Ibu untuk membuat anaknya bahagia bukan ikut-ikutan merasakan kesedihannya. Belum lagi, melihat sifat Kyu Hyun yang temperamental seperti itu.

“Jika Eomma terus-terusan seperti ini, agh…” Kyu Hyun tak berhasil menyelesaikan kata-katanya, tubuhnya bergetar hebat saat ia melihat noktah bening itu meluncur dari pelupuk mata Eun Ji.

“Eomma, uljima. Ini sudah jam 9… kita harus segera ke caffe,” Ji Hyun berusaha menenangkan Eun Ji dan merengkuh tubuh Ibunya itu pergi dari hadapan Kyu Hyun.

****

Suasana istirahat di ruang kelas XII IPA 2 terlihat lengah, mungkin sebagian besar dari murid yang ada di kelas ini memilih untuk pergi ke kantin atau hanya mengabiskan waktu mereka di perpustakaan. Tetapi, tidak untuk gadis yang satu ini.

Di balik cahaya matahari yang berusaha mendobrak jendela kaca ruang kelas, tangan Ji Hyun mulai menggerakan bolpointnya dan menggoreskan sebuah kata-kata yang selalu lewat di otaknya di atas sebuah kertas putih polos sebuah buku catatan. Sesekali matanya melirik ke bangku kosong yang berada di sampingnya.

Ji Hyun memejamkan matanya sekilas, “Lee Dong Hae…” desisnya pelan berharap tak ada yang mendengar ia menyebut nama itu,

Nama itu seolah memberi oksigen untuknya yang saat ini tengah terdesak dengan berbagai macam masalah. Hatinya tengah layu di penuhi masalah-masalah yang belum sempat ia selesaikan, selain kata CHU yang masih membuat ia penasaran, masalah kedua orang tuanya, ditambah lagi dengan sosok laki-laki yang sudah beberapa hari ini tidak masuk dan menemainya duduk di kelas.

“Ji Hyun-ah,”

“Oppa…” Ji Hyun mendongakkan kepalanya dan cepat-cepat menutup buku catatan miliknya.

Kyu Hyun menarik kursi kosong yang ada di sebalah Ji Hyun, “Aku tahu dimana Appa,” kata Kyu Hyun mengejutkan Ji Hyun.

“Kau tau dari mana Oppa?” tanya Ji Hyun penasaran.

Kyu Hyun memainkan ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan singkat pada Ji Hyun, “Jae Joon ajjeossi yang memberitahuku, aku meminta tolong padanya seminggu yang lalu. Aku tidak tahan melihat Eomma seperti itu,” jelas Kyu Hyun.

“Apa kau akan menemui Appa?”

“Nde! Apa kau mau ikut?”

Ji Hyun berpikir sejenak dengan mengigit bibir bawahnya, “Aniya… aku akan menjaga Eomma saja, dan membantunya di Caffe,” jawab Ji Hyun dengan senyum tipis di wajahnya.

Ji Hyun tau dirinya tak begitu akrab dengan Cho Kyu Won –Appa Ji Hyun yang dulu sempat menceraikan Eun Ji saat Ji Hyun masih kecil dan membuatnya terpisah cukup lama dengan Kyu Hyun. Itu karena, keluarga Kyu Won yang sebelumnya tak pernah menerima keberdaan Eun Ji. Tetapi, Kyu Won berhasil membujuk keluarganya selang beberapa tahun dan kembali merajut benang cinta yang sempat kusut itu.

“Baiklah… apa kau tak merindukan namja yang duduk di sebelahmu itu?” tanya Kyu Hyun menggoda,

Wajah Ji Hyun merona merah saat itu juga, “Ya~!! Oppa, akan ku adukan dirimu pada soenbae Shin,” ancam Ji Hyun.

“Ish… sayang sekali jika kau terus mendustai perasaanmu itu… siapa tahu Donghae tau apa itu CHU~” ucap Kyu Hyun seraya melenggang pergi.

Ji Hyun hanya tersenyum tipis, hatinya sempat berdesir diluar kendalinya bahkan masalah mengenai orangtuanya seolah memang tak pernah ada. Wajahnya masih bersemu merah karena ulah Kyu Hyun yang menggodanya. Menurutnya ada benar juga perkataan Oppanya itu, mungkin dia bisa menanyakan hal ini pada Donghae setelah ia kembali dari rutinitasnya sebagai aktor yang baru saja terjun di dunia perfilman.

 ****

Langkah kaki Kyu Hyun semakin dipercepat, selang beberapa detik ia turun dari taksi yang ia tumpangi. Matanya menengadah melihat gedung pencakar langit yang menjulang di hadapannya. Gangnam Sky City.

“Annyeonghaseyo, ada yang bisa kami bantu?” sapa dua orang wanita paruh baya yang berjaga di lobi. Wajah wanita paruh baya itu terlihat sama, mungkin mereka mengoperasi wajah mereka di tempat yang sama.

“Annyeong… Aku ingin bertemu dengan Cho Kyu Won, apakah ia ada di kamarnya?” jawab Kyu Hyun seraya tersenyum simpul.

“Kami akan menghubunginya dahulu,” ucap salah satu wanita itu.

Kyu Hyun mengedarkan pandangannya selagi menunggu wanita yang berusaha menghubungi Appanya. Appartemen ini terlihat sangat mewah sekali, tidak sembarang orang bisa tinggal di tempat semewah ini. Interior bergaya Amerika dengan sedikit sentuhan Asia membuat sebuah budaya baru yang mengaggumkan di appartemen berkelas seperti ini.

“Soenbae Shin…”

Mata Kyu Hyun berkeling, ketika seorang gadis berperwakan putih dengan dress pendek selutut membalut tubuhnya baru saja melewati dirinya yang tak mengedipkan mata sama sekali. Desakan untuk menghampiri gadis itu berusaha ia rendam sekuat tenaga, melihat dua orang bodyguard yang memiliki tubuh kekar darinya itu berada di samping Shin Seul Byul. Kakak kelas yang sudah mampu menghinoptis Kyu Hyun tenggelam dalam cintanya.

Semenjak kesibukan Shin dalam kehidupannya sabagai public figure, Kyu Hyun sama sekali belum memiliki kesempatan untuk beratatap muka lagi dengan malaikat yang turun dari surga itu. Ia hanya bisa mengirimkan pesan lewat e-mail Shin. Berharap, Kyu Hyun bisa menyatakan perasaannya tanpa batasan ruang maya apapun.

“Tuan… Tuan Cho Kyu Won, sebentar lagi akan turun… dia sedang sibuk dengan kliennya saat ini,” suara wanita yang berjaga di lobi berhasil menghamburkan lamunan Kyu Hyun dari sosok Shin.

“Gamsahamnida,” Kyu Hyun berpindah posisi di sebuah soffa, matanya terus menatap sebuah lift yang sedari tadi terlihat berseliweran orang keluar masuk begitu saja.

“Appa…” desis Kyu Hyun, matanya menangkap cepat Kyu Won yang baru saja menyalami seorang kliennya setelah keluar dari lift.

“Appa…” panggil Kyu Hyun disambut senyum hangat dari Kyu Won.

****

“Kyu Hyun-a, kenapa kau tak mengajak Ji Hyun?” tanya Kyu Won sambil membawa dua gelas jus jeruk dari arah dapur.

“Molla… dia bilang ingin membantu Eomma di caffe,” jawab Kyu Hyun yang selanjutnya menyesap segar jus jeruknya.

“Bagaimana kabar Eomma?” tanya Kyu Won khawatir.

“Eomma baik-baik saja, tapi ia selalu terlihat sedih Appa, kenapa Appa pergi? Apa Appa ingin mengulang masa kelam itu lagi untu kedua kalinya?” tanya Kyu Hyun mengingat perceraian Eun Ji dan Kyu Won dulu.

“Ish… kenapa kau berfikir seperti itu?” tepis Kyu Won merasa tersudutkan dengan perkataan Kyu Hyun.

“Ya, Appa. Lalu… kenapa kau meninggalkan kami?”

“Ini urusan pekerjaan… dan ada satu hal…”

“Jika ini urusan pekerjaan, kenapa tidak di rumah saja… kenapa harus sampai memilih tinggal di appartemen?” tanya Kyu Hyun.

“Proyek tempat Appa bekerja itu jauh, dan sebentar lagi akan selesai… Appa akan segera kembali ke rumah… Kau tahu, Appa juga akan memberikan kejutan untuk Eomma di malam valentine nanti,” ungkap Kyu Won seraya tersenyum simpul.

“Jinja? Mwo? Appa kau pasti memberitahuku kan?” Kyu Hyun terkesiap setengah kaget,

“Sini, Appa bisikin –“ Kyu Won mulai berbisik di telinga Kyu Hyun.

Dikiranya Appanya itu akan mengulangi masa kelam keluarganya dulu, ternyata sosok Kyu Won yang terkenal pintar dan selalu sukses dengan pekerjaannya memiliki sebuah pekerjaan sampingan yaitu berakting. Mendalami aktingnya untuk membuat sebuah peristiwa romantis untuk Eun Ji.

****

Ji Hyun menatap lepas sebuah pemandangan kota metropolitan Seoul yang berhiaskan gedung-gedung yang menjulang dengan dibatasi sebuah pagar besi yang mengitari atap Hannyoung High School. Rentetean mobil berjalan melambat berada di bawah menjadi tontonan biasa, jika ia ingin menyendiri di atap gedung sekolahnya. Ini menjadi tempat favoritnya sebagai tempat ia menuangkan segala imajinasi yang akan ia kembangkan dalam sebuah cerita.

“Ji Hyun-a… Kau kah itu?”

Ji Hyun membalikkan tubuhnya. Di dapatinya seorang jelmaan dewa hermes dari zaman Yunani sudah berdiri tegap di hadapannya. Hatinya hampir meleleh tersengat panasnya matahari kota Seoul, jantungnya berdegup lebih cepat sepuluh kali. Jika ia diperbolehkan meminjam pengeras suara, pasti sentero Hannyoung High School akan diselubungi suara detakan jantungnya yang tidak karuan.

“Lee… Lee Dong… Donghae…” ucap Ji Hyun tergagap berusaha mengatur detak jantungnya.

“Apa kau tak merindukanku, heh?” tanya Donghae yang kini berada di samping Ji Hyun dengan kedua tangan yang bertumpu pada pagar besi.

“Cih… Mengapa aku harus merindukanmu Tuan Lee? Aku tidak suka dengan orang-orang yang sombong?” cecar Ji Hyun bersikap jaim seperti yang biasa ia lakukan.

“Ya~!! Apa kau tak menyukaiku yang terjun sebagai artis ini, eoh?” Donghae mengernyitkan dahinya.  “Apa salahnya aku mengejar cita-citaku ini?” timpal Donghae.

Ji Hyun menghela nafas berat, ia tak mampu menutupi kejaiman dirinya ini, mulutnya tak berani membuka. Rasanya menyambut kedatangan Dong Hae dengan sebuah cecaran seperti itu membuatnya sedikit bersalah.

“Ji Hyun-a… apa kau tak ingin berfoto denganku?” cletuk Dong Hae menengahi suasana.

“Ya~!! Aku tidak seperti para gadis tadi… yang mengkerumunimu hanya untuk minta berfoto … ataupun sekedar bertukar nomor denganmu untuk mengetahui jadwal drama yang kau bintangi itu,”

“Jinja?”

“Nde!” jawab Ji Hyun tertunduk, dengan menyanggahkan punggungnya di pagar besi.

“Kau kenapa? Kau terlihat tidak ceria seperti biasanya… kemana sifat temperamental yang melebihi saudara kembarmu itu?” komentar Dong Hae, merindukan sifat Ji Hyun yang biasa menghujaminya dengan kata-kata yang keras tapi malah membuatnya tergelitik dalam hati.

“Aku…” Ji Hyun membalikkan tubuhnya seperti Dong Hae yang tengah menengadahkan kepalanya menatap langit biru yang menyelimuti kota Seoul.

“Kenapa kau tak bercerita padaku? Biasanya kau selalu menceritakan masalahmu… jangan sungkan mengenai popularitasku ini,” Dong Hae menatap wajah yang bersemikan cahaya matahari yang cukup menyengat, hembusan angin yang menggerakan rambut Ji Hyun membuat gadis ini terlihat semakin memposana di matanya.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu…” ucap Ji Hyun hati-hati seraya menggigit bibir bawahnya.

“Eung… Mwo??” tanya Dong Hae penasaran, tangan kananya berusaha menyingkirkan rambut Ji Hyun yang menutupi wajah Ji Hyun yang terlihat dari samping itu.

Ji Hyun mulai berpikir mengenai sebuah kata yang masih membuatnya mati penasaran. Mengenai masalah yang lain mungkin masih ia bisa tangani nanti. Tapi, mengenai kata-kata ini, ia kembali teringat perkataann Oppanya waktu itu.

“Jangan kau dustai perasaanmu itu, Ji Hyun-a… mungkin Dong Hae tau apa itu CHU~,”

Ji Hyun berfikir sejenak seraya mengendalikan degup jantunya yang naik turun.

“Uhmm… Dong Hae-ah, apa kau tau apa itu…” Ji Hyun terpaku, dan ia ragu akan menanyakan hal ini,

“Mwo??” tanya Donghae penasaran.

To Be Continued..

Jeongmal gamsahamnida sudah mau membaca karya abal-abal(?)ku ini. Jadilah readers yang baik. Don’t be a silent readers. Komen dan Like itu sangatlah berharga !! :)